STRATEGI PEMBELAJARAN IPA
Mengapa
dalam pembelajaran perlu strategi? Tentu saja pertanyaan ini dapat
dijawab dengan mengembalikan kepada hakikat pembelajaran itu sendiri.
Pembelajaran atau barang kali menggunakan istilah “belajar dan
mengajar” sebenarnya merupakan sebuah usaha secara sadar dan terencana
dengan tujuan terjadinya perubahan perilaku pada peserta didik. Sebagai
seorang guru/pendidik tentu harus berupaya agar usaha yang dilakukan
dapat berhasil dengan baik sehingga usahanya efektif.

Agar
dapat memainkan perannya secara efektif, seorang guru menurut Arends
(2004: 20) harus mempunyai empat atribut sebagai berikut:
- Guru
yang efektif mempunyai dasar pengetahuan mengenai belajar dan mengajar
dan menggunakan pengetahuan ini sebagai petunjuk dalam praktik
mengajar mereka.
- Guru yang efektif menguasai sekumpulan cara
praktik mengajar (model, strategi, prosedur) dan dapat menggunakannya
untuk membelajarkan siswa dalam kelas dan untuk bekerjasama dengan
orang lain di lingkungan sekolah
- Guru yang efektif mempunyai
pengaturan dan keterampilan untuk melakukan pendekatan pada semua aspek
pekerjaannya dengan cara yang reflektif, kesejawatan dan dalam rangka
pemecahan masalah.
- Guru yang efektif memandang belajar mengajar
sebagai proses belajar sepanjang hayat dan mempunyai pengetahuan dan
ketrampilan bekerja untuk meningkatkan kemampuan pengajarannya sendiri
dan meningkatkan mutu sekolah.
Melihat pada atribut ke-1
dan ke-2 seperti uraian di atas, maka pemahaman terhadap strategi
pembelajaran biologi mutlak diperlukan. Di sini sering kali menimbulkan
kebingungan untuk membedakan dan menerapkan istilah-istilah seperti
pendekatan, strategi, metode, teknik, serta model pembelajaran. Baiklah
berikut pengertian masing-masng istilah tersebut. Uraian yang lebih
luas terdapat pada model pembelajaran karena dengan model pembelajaran
sudah dapat memberikan gambaran pendekatan, strategi, metode, dan
teknik pembelajaran.
1. Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat
diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses
pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan tentang
terjadinya proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh karenanya,
strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dapat bersumber,
terisnpirasi, dikuatkan dan diwadahi oleh pendekatan tertentu. Roy
Killen (1998) misalnya mencatat ada dua pendekatan dalam pembelajaran,
yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (
teacher-centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (
student-centred approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (
direct instruction),
pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan,
pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi
pembelajaran
discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif.
Sebuah
pendekatan pembelajaran menurut Rustaman dkk (2003: 107-117) dapat
diimplementasikan dengan menggunakan beberapa metode pembelajaran.
Demikian pula sebaliknya sebuah metode pembelajaran tertentu dapat
digunakan untuk mengimplementasikan beberapa pendekatan yang berbeda.
Macam-macam pendekatan yang sering dikenal dalam pembelajaran antara
lain: pendekatan tujuan pembelajaran, pendekatan konsep, pendekatan
lingkungan, pendekatan inkuiri, pendekatan keterampilan proses,
pendekatan interaktif, pendekatan penemuan, pendekatan pemecahan
masalah, dan pendekatan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat
(Salingtemas).
2. Strategi Pembelajaran
Setelah pendekatan pembelajaran ditetapkan, selanjutnya diturunkan ke dalam
strategi pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran terdapat empat unsur dalam strategi, yaitu:
1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Dengan demikian strategi dalam pembelajaran diartikan sebagai
a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular education goal.
Jadi, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang
berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu.
Menurut Sanjaya (2007) dalam konteks
pembelajaran, strategi berarti pola umum perbuatan guru-peserta didik
di dalam perwujudan kegiatan belajar-mengajar. Sifat umum pola tersebut
berarti bahwa macam dan urutan perbuatan yang dimaksud tampak
dipergunakan dan/atau dipercayakan guru-peserta didik di dalam
bermacam-macam peristiwa belajar.
Di bawah ini akan diuraikan beberapa definisi tentang strategi pembelajaran.
1.
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2.
Kozma (dalam Sanjaya 2007) secara umum menjelaskan bahwa strategi
pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih,
yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik
menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.
3. Gerlach
dan Ely menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara
yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan
pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa
strategi pembelajaran dimaksud meliputi; sifat, lingkup, dan urutan
kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada
peserta didik.
4. Dick dan Carey (1990 dalam Sanjaya, 2007)
menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen
materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar
yang/atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik
mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut mereka strategi
pembelajaran bukan hanya terbatas pada prosedur atau tahapan kegiatan
belajar saja, melainkan termasuk juga pengaturan materi atau paket
program pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
5.
Cropper di dalam Wiryawan dan Noorhadi (1998) mengatakan bahwa
strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan
tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. la
menegaskan bahwa setiap tingkah laku yang diharapkan dapat dicapai oleh
peserta didik dalam kegiatan belajarnya harus dapat dipraktikkan.
Berdasar
pengertian-pengertian di atas, sesungguhnya dalam strategi
pembelajaran terkandung makna perencanaan. Strategi pebelajaran pada
dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari
strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian,
yaitu: (1)
exposition-discovery learning dan (2)
group-individual learning
(Rowntree dalam Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara
pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara
strategi pembelajaran induktif dan
strategi pembelajaran deduktif.
3. Metode Pembelajaran
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai
metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “
a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “
a way in achieving something”
(Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai
cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Menurut Rustaman dkk (2003) ada beberapa metode
pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi
pembelajaran, antara lain: 1) metode ceramah, 2) metode tanya jawab, 3)
metode diskusi, 4) metode demonstrasi, 5) metode ekspositori atau
pameran, 6) metode karya wisata/widya wisata, 7) metode penugasan, 8)
metode eksperimen, 9) metode bermain peran, dan sebagainya.
Pemilihan
metode terkait langsung dengan usaha-usaha guru dalam menampilkan
pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga pencapaian
tujuan pengajaran diperoleh secara optimal. Oleh karena itu, salah satu
hal yang sangat mendasar untuk dipahami guru adalah bagaimana memahami
kedudukan metode sebagai salah satu komponen bagi keberhasilan
kegiatan belajar-mengajar sama pentingnya dengan komponen-komponen lain
dalam keseluruhan komponen pendidikan. Makin tepat metode yang
digunakan oleh guru dalam mengajar akan semakin efektif kegiatan
pembelajaran. Tentunya ada juga faktor-faktor lain yang harus
diperhatikan, seperti: faktor guru, anak, situasi (lingkungan belajar),
media, dan lain-lain.
4. Teknik dan Gaya Pembelajaran
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam
teknik dan gaya pembelajaran.
Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang
dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara
spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah
siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya
secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas
yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode
diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya
tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal
ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode
yang sama.
5. Model Pembelajaran
Pendekatan, strategi, metode, dan teknik dalam pembelajaran dapat diwadahi atau tercermin dalam sebuah
model pembelajaran. Merujuk
pada Joyce, weil, dan Shower dalam Depdiknas (2004:1), istilah model
pembelaja digunakan untuk dua alasan penting, yaitu:
- Istilah
model mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode,
atau prosedur. Istilah model pengajaran mencakup suatu pendekatan
pengajaran yang luas dan menyeluruh.
- Model pengajaran dapat
berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting. Model pengajaran
diklasifikasikan berdasaran tujuan pembelajarannya, sintaksnya (pola
urutannya), dan sifat lingkungan belajarnya. Penggunaan model
pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan
pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran lain.
Istilah
model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dimiliki
oleh strategi atau prosedur tertentu. Hal ini dinyatakan dalam
Depdiknas (2004:1). Ciri-ciri tersebut adalah (1) rasional teoritik yang
logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya; (2) landasan
pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran
yang akan dicapai); (3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar
model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan (4) lingkungan
belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
Pada setiap model pembelajaran dikenal adanya
sintaks
atau pola urutan yang menggambarkan keseluruhan alur langkah yang pada
umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Masih dalam
Depdiknas (2004:2) dikemukakan bahwa, ”Sintaks pembelajarn menunjukkan
dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan guru atau siswa,
urutan kegiatan-kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu
dilakukan oleh siswa”.
Setiap model memerlukan sistem pengelolaan
dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Setiap pendekatan
memberikan peran berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan sistem
sosial kelas. Arends dan para pakar pembelajaran yang lain berpendapat
bahwa tidak ada model pembelajaran yang lebih baik dari pada model
pembelajaran yang lain. Guru perlu menguasai dan dapat menerapkan
berbagai model pembelajaran agar dapat mencapai tujuan pembelajaran
yang sangat beranekaragam dan lingkungan belajar yang menjadi ciri
sekolah pada dewasa ini. Menguasai berbagai model pembelajaran
merupakan bekal utama bagi seorang guru untuk mencapai tujuan
pembelaran tertentu sesuai dengan lingkungan belajar atau kelompok
siswa tertentu.
Berbagai macam model pembelajaran yang dapat digunakan antara lain: 1) Model Pembelajaran Langsung (
Direct Instruction), 2) Model Pembelajaran Kooperatif (
Cooperative Learning), 3) Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah (
Problem Based Learning).
a. Model Pembelajaran Langsung (
Direct Instruction)
Landasan teoretik
DI adalah teori belajar sosial khususnya tentang pemodelan (
modelling).
Albert Bandura yang merupakan pengembang teori belajar sosial
menyatakan bahwa belajar yang dialami oleh manusia sebagian besar
diperoleh dari suatu pemodelan yiatu meniru perilaku dan pengalaman
orang lain.
Model
DI dirancang secara khusus untuk
mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan
pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat
dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal rumus dalam bidang sains
merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual).
Sedangkan bagaimana cara mengoperasikan alat-alat tertentu dalam sains
merupakan contoh pengetahuan prosedural.
Model
DI
mempunyai lima fase yang sangat penting yaitu: 1) menyampaikan tujuan,
2) mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan, 3) membimbing
pelatihan, 4) mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik, dan 5)
memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. Rincian
perilaku guru pada setiap fase dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Langsung
Fase-fase
|
Perilaku Guru
|
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa.
|
Guru menyampaikan tujuan, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar.
|
Fase 2
Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan
|
Guru mendemostrasikan keterampilan yang benar atau menyajikan informasi tahap demi tahap.
|
Fase 3
Membimbing pelatihan
|
Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal
|
Fase 4
Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik
|
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberikan umpan balik.
|
Fase 5
Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
|
Guru
mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan
perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan
kehidupan sehari-hari
|
b. Model Pembelajaran Kooperatif (
Cooperative Learning)
Landasan teoretik Model Pembelajaran Kooperatif
(CL)
adalah teori belajar kognitif–konstruktivis. Salah satu teorinya
misalnya yang dikemukan oleh Vigotsky yang menekankan pada hakikat
sosiokultural dari
pembelajaran. Menurut Vigotsky fungsi mental yang lebih tinggi pada
umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antarindividu sebelum
fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu terebut.
Implikasi dari teori Vigotsky ini dikehendakinya susunan kelas
berbentuk pembelajaran kooperatif.
Landasan teoretik lain menurut Arends (2004: 357-358) dalam pengebangan
CL
adalah konsep tentang kelas demokratis seperti yang disampaikan oleh
John Dewey. Kelas demokratis ini membutuhkan guru untuk menciptakan
lingkungan belajar yang dicirikan oleh prosedur yang demokratis dan
proses yang ilmiah. Tanggung jawab utama adalah untuk menemukan
masalah-masalah sosial dan interpersonal.
Selain untuk mengembangkan hasil belajar akademik,
CL
juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Model
pembelajaran ini diyakini unggul dalam membantu siswa memahami
konsep-konsep yang sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan
bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan
penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang
berhubungan dengan hasil belajar. Tujuan lain yang penting dengan
penerapan
CL ini adalah untuk mengajarkan kepada siswa
keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting untuk
dimiliki dalam berkehidupan di masyarakat yang banyak tersusun dalam
organisasi yang saling bergantung satu sama lain.
Keterampilan
kooperatif yang dimaksud antara lain menurut Lungdren (1994) meliputi:
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, 2) Keterampilan kooperatif
tingkat menengah, dan 3) keterampilan kooperatif tingkat mahir.
Keterampilan
kooperatif tingkat awal terdiri atas: 1) menggunakan kesempatan, 2)
menghargai kontribusi, 3) mengambil giliran dan berbagi tugas, 4)
berada dalam kelompok, 5) berada dalam tugas, 6) mendorong
partisipasi,7) mengundang orang lain untuk berbicara, 8) menyelesaiakn
tugas pada waktunya, dan 9) menghormati perbedaan individu.
Keterampilan
kooperatif tingkat menengah meliputi: 1) menunjukkan penghargaan dan
simpati, 2) menggunakan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat
diterima, 3) mendengarkan dengan aktif, 4) bertanya, 5)membuat
ringkasan, 6) menafsirkan, 7) mengatur dan mengorganisir, 8) menerima
tanggung jawab, dan 9) mengurangi ketegangan.
Keterampilan
kooperatif tingkat mahir meliputi: 1) mengelaborasi, 2) memeriksa
dengan cermat, 3) menanyakan kebenaran, 4) menetapkan tujuan, dan 5)
berkompromi.
Pada
CL terdapat enam langkah yaitu: 1)
menyampaikan tujuan, 2) menyajikan informasi, 3) mengorganisasi siswa
ke dalam kelompok-kelompok belajar, 4) membimbing kelompok bekerja dan
belajar, 5) evaluasi, dan 6) memberikan penghargaan. Secara rinci
sintaks pembelajaran
CL adalah seperti pada Tabel 2.
Tabel 2. Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Fase-fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswaransisi
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
|
Fase 2
Menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa degan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
Fase 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok
belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara
efisien
|
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat merek mengerjakan tugas mereka
|
Fase 5
Ealuasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
Fase 6
Memberikan penghargaan
|
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
|
Model pembelajaran kooperatif mempunyai banyak tipe antara lain:
Student
Teams Achievement Division (STAD), Teams Games Tournament (TGT),
Jigsaw, Think Pair Share (TPS), Numbered Head Together (NHT),
Cooperative Script, dan sebagaiya. Berikut akan diberikan penejelasan secara singkat beberapa contoh tipe model pembelajaran kooperatif.
b.1 Student Teams Achievement Division (STAD)
STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Sintaks pembelajaran kooperatif tipe
STAD adalah sebagai berikut.
- Para
siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim,
masing–masing terdiri atas 4 atau 5 anggota. Tiap kelompok memiliki
anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan
(tinggi, sedang, rendah).
- Tiap anggota tim/kelompok
menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk
menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusiantar sesama
anggota tim/ kelompok.
- Secara individual atau tim, tiap minggu
atau tiap dua minggu akan mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan
mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
- Tiap
siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar,
dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi tinggi
atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Kadang – kadang
beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu
criteria atau srandar tertentu.
b. 2. Teams Games Tournament (TGT)
Penerapan
model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap
kelompok bisa sama bis aberbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap
kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi.
Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa
kompetisi antar kelompok, suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan
sepeti dalam kondisi permainan (
games) yaitu dengan cara guru
bersikap terbuka, ramah , lembut, dan santun. Setelah selesai kerja
kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. Adapun
sintaks
TGT adalah sebagai berikut.
- Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan mekanisme kegiatan.
- Siapkan
meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati
4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level
tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati
oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk
pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
- Selanjutnya
adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang
telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu
tertentu (misal 3 menit). Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal
dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen
untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap
meja tunamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan
(gelar) superior, very good, good, dan medium.
- Bumping,
pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dan
seterusnya.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen
sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja
turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi
oleh siswa dengan gelar yang sama.
- Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
b.3. Think Pair Share (TPS)
TPS merupakan
pembelajaran kooperati yang dirancang untuk mempengaruhi pola
interaksi siswa. Struktur kelas siswa menghendaki siswa bekerja saling
membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dicirikan
penghargaan kooperatif dari pada penghargaan individual. Prosedur
TPS memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada siswa untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain.
Adapun langkah-langkah pembelajaran
TPS adalah sebagai berikut.
1. Tahap
Think
(berpikir), guru mengajukan pertanyaan atau isu uang berhubungan
dengan pelajaran. Selanjutnya siswa diminta untuk memikirkan jawaban
pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2. Tahap
Pairing (berpasangan),
guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk
mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Interaksi
pada tahap ini diharapkan dapat berbagi jawaban atau berbagi ide.
Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3. Tahap
Sharing
(berbagi), guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh
kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai
sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
b.4. Numbered Head Together (NHT)
Tahap-tahap pembelajaran pada NHT adalah sebagai berikut.
1.
Tahap 1 (Penomoran). Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggota 3-5 orang, dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor 1 – 5.
2.
Tahap 2 (Mengajukan pertanyaan).
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi, dapat bersifat spesifik, maupun dalam bentuk kalimat tanya
atau berbentuk arahan.
3.
Tahap 3 (Berpikir Bersama).
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya telah mengetahui jawaban
tersebut.
4.
Tahap 4 (Menjawab). Guru suatu nomor
tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya
dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.